MDTA MALNU Ciririgi Bertahan di Tengah Keterbatasan Sarana dan Tanpa Gaji Guru

Oplus_131072

Pandeglang – dailypost-indonesia.my.id | Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Mathlaul Anwar Linahdhatil Ulama (MALNU) Ciririgi di Kampung Ciririgi, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, masih bertahan di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.

Sejak berdiri pada 1968, madrasah ini terus menyelenggarakan pendidikan keagamaan meski tidak memperoleh dukungan anggaran tetap. Selama puluhan tahun, kegiatan belajar mengajar berjalan berkat pengabdian para guru yang mengajar tanpa menerima gaji maupun honor.

MDTA MALNU Ciririgi berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan berada di bawah naungan Mathla’ul Anwar Linahdhatil Ulama (MALNU) Menes. Pihak madrasah memusatkan pendidikan pada penanaman nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah bagi anak-anak usia madrasah ibtidaiyah, khususnya di wilayah Pandeglang bagian selatan.

Bangunan Tidak Layak

Kondisi fisik bangunan madrasah saat ini memerlukan perhatian serius. Atap bangunan bocor, lantai keramik rusak hingga menjadi tanah, dan plafon dalam kondisi rapuh serta berpotensi ambruk. Keadaan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga membahayakan keselamatan siswa.

Keterbatasan ruang belajar memaksa pihak madrasah menggabungkan siswa kelas II dan III dalam satu ruangan. Sementara itu, kelas I dan IV menempati ruangan terpisah. Satu ruang lainnya difungsikan secara bersama sebagai kantor dan ruang guru. Saat ini, MDTA MALNU Ciririgi menampung sekitar 60 siswa.

Guru Mengajar Tanpa Honor

Sebanyak enam orang guru mengelola seluruh proses pendidikan di MDTA MALNU Ciririgi. Seluruh tenaga pendidik tersebut tidak berstatus sebagai PNS, ASN PPPK, maupun PPPK paruh waktu. Hingga kini, mereka tetap mengajar tanpa menerima gaji atau honor.

“Kami mengajar karena pengabdian dan tanggung jawab moral. Tidak ada gaji maupun honor, tetapi pendidikan agama anak-anak harus tetap berjalan,” ujar Kepala MDTA MALNU Ciririgi, Ustadz Nahrawi, melalui Maspiah, salah seorang guru.

Operasional Bergantung pada Wali Murid

Untuk kebutuhan operasional, madrasah hanya mengandalkan hasil musyawarah wali murid berupa bantuan gabah sekitar 25 kilogram atau setara Rp300 ribu per tahun. Bantuan tersebut bersifat sukarela dan sangat bergantung pada hasil panen, sehingga tidak dapat dijadikan sumber pembiayaan rutin.

“Kadang wali murid bisa membantu, kadang tidak. Kami memahami kondisi ekonomi mereka,” kata Maspiah.

Harapkan Perhatian Pemerintah

Meski berada dalam keterbatasan, MDTA MALNU Ciririgi telah melahirkan ratusan alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang, seperti pendidikan, kewirausahaan, dan tenaga kesehatan. Pihak madrasah menilai capaian tersebut sebagai bukti kontribusi nyata lembaga pendidikan diniyah dalam membangun karakter dan sumber daya manusia di Kabupaten Pandeglang.

Pihak madrasah berharap pemerintah daerah, lembaga keagamaan, serta para dermawan dapat memberikan perhatian, terutama dalam membantu perbaikan sarana dan prasarana. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjamin keberlangsungan pendidikan agama yang aman dan layak bagi generasi mendatang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *